Upgrade Firefox 3.0.5 dan Avast Anti Virus Database

Untuk segenap karyawan PT. Indo Mulya, diharapkan bisa mengupgrade Firefox 3.0.5 dan Avast Anti Virus Database. Untuk yang mengalami masalah, harap hubungi admin@indomulya.com

Firefox 3.0.5 Download
Avast DB update

Last update : 23 Desember 2008

Social tagging: > > >

4 Responses to Upgrade Firefox 3.0.5 dan Avast Anti Virus Database

  1. Cipto says:

    Siapakah emaknya
    ________________________________________
    Selesai mengurus keperluan di Medan, saya harus kembali ke camp. Mengingat
    jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa
    mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan
    makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di
    depan.

    “Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera
    menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue
    jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya
    ringkas. dia berlalu.

    Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20
    menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain,
    sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu
    begitu saja.

    “Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika
    menghampiri meja saya.

    “Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil
    menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai
    di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu
    dia tanya, “Tak mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak atau Ibu.” Molek
    budi bahasanya.

    Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya
    menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan
    kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak
    nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya,
    sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

    Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke
    mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang
    sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum
    sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia
    menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas
    senyumannya.

    “Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-
    adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.
    Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun
    pisang penutupnya.

    Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan
    di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp
    20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang
    beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat
    mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima
    kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira
    dapat membantunya.

    Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah
    terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,-
    pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua
    matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak
    itu. “Kenapa Bang, mau beli kue kah?” tanyanya.

    “Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu
    Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

    “Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya
    mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
    Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan
    masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak
    berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran
    sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal
    saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

    “Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk.
    Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Selepas dia
    memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp
    25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya
    perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

    Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak
    yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan
    mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi
    atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat
    menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum
    dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

  2. AGUNG says:

    Haaaa…..banyak kali kau uang bah…..!
    kau ini bgm…..sama diri kamu sendiri lupa…..????
    HORAS …..

  3. agus says:

    inilah type anak anak yang di butuhkan oleh indonesia

Leave a Reply

*