<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Upgrade Firefox 3.0.5 dan Avast Anti Virus Database</title>
	<atom:link href="http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/</link>
	<description>General Contractor and Supplier</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 19:55:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Randhi Pratama Putra</title>
		<link>http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/comment-page-1/#comment-51</link>
		<dc:creator>Randhi Pratama Putra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 04:34:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indomulya.com/?p=111#comment-51</guid>
		<description>mas cip... commentnya aq pindah ke sini --&gt; &lt;a href=&quot;http://indomulya.com/tulisan/02/siapakah-emaknya/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://indomulya.com/tulisan/02/siapakah-emaknya/&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas cip&#8230; commentnya aq pindah ke sini &#8211;> <a href="http://indomulya.com/tulisan/02/siapakah-emaknya/" rel="nofollow">http://indomulya.com/tulisan/02/siapakah-emaknya/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agus</title>
		<link>http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/comment-page-1/#comment-49</link>
		<dc:creator>agus</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 02:58:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indomulya.com/?p=111#comment-49</guid>
		<description>inilah type anak anak yang di butuhkan oleh indonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>inilah type anak anak yang di butuhkan oleh indonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AGUNG</title>
		<link>http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/comment-page-1/#comment-48</link>
		<dc:creator>AGUNG</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 04:06:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indomulya.com/?p=111#comment-48</guid>
		<description>Haaaa.....banyak kali kau uang bah.....!
kau ini bgm.....sama diri kamu sendiri lupa.....????
HORAS .....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Haaaa&#8230;..banyak kali kau uang bah&#8230;..!<br />
kau ini bgm&#8230;..sama diri kamu sendiri lupa&#8230;..????<br />
HORAS &#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cipto</title>
		<link>http://indomulya.com/2008/12/upgrade-firefox-305-dan-avast-anti-virus-database/comment-page-1/#comment-47</link>
		<dc:creator>Cipto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 01:14:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indomulya.com/?p=111#comment-47</guid>
		<description>Siapakah emaknya 
________________________________________
Selesai mengurus keperluan di Medan, saya harus kembali ke camp. Mengingat 
jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa 
mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan 
makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di 
depan.

&quot;Abang mau beli kue?&quot; Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera 
menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue 
jajanannya. &quot;Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,&quot; jawab saya 
ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 
menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, 
sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu 
begitu saja.

&quot;Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?&quot; tanyanya tenang ketika 
menghampiri meja saya.

&quot;Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,&quot; kata saya sambil 
menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai 
di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu 
dia tanya, &quot;Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu.&quot; Molek 
budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya 
menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan 
kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak 
nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, 
sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke 
mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang 
sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum 
sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia 
menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas 
senyumannya.

&quot;Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-
adik, Ibu atau Ayah abang,&quot; katanya sopan sekali sambil tersenyum. 
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun 
pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan 
di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 
20.000,- padanya. &quot;Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang 
beli kue itu.&quot; Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat 
mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima 
kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira 
dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah 
terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- 
pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua 
matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak 
itu. &quot;Kenapa Bang, mau beli kue kah?&quot; tanyanya.

&quot;Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu 
Abang berikan ke Adik!&quot; kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

&quot;Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya 
mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. 
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan 
masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak 
berupaya, saya masih kuat Bang!&quot; katanya begitu lancar. Saya heran 
sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal 
saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

&quot;Abang mau beli semua kah?&quot; dia bertanya dan saya cuma mengangguk. 
Lidah saya kelu mau berkata. &quot;Rp 25.000,- saja Bang....&quot; Selepas dia 
memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 
25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya 
perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak 
yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan 
mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi 
atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat 
menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum 
dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah emaknya<br />
________________________________________<br />
Selesai mengurus keperluan di Medan, saya harus kembali ke camp. Mengingat<br />
jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa<br />
mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan<br />
makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di<br />
depan.</p>
<p>&#8220;Abang mau beli kue?&#8221; Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera<br />
menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue<br />
jajanannya. &#8220;Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,&#8221; jawab saya<br />
ringkas. dia berlalu.</p>
<p>Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20<br />
menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain,<br />
sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu<br />
begitu saja.</p>
<p>&#8220;Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?&#8221; tanyanya tenang ketika<br />
menghampiri meja saya.</p>
<p>&#8220;Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,&#8221; kata saya sambil<br />
menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai<br />
di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu<br />
dia tanya, &#8220;Tak mau beli kue saya Bang, Pak&#8230; Kakak atau Ibu.&#8221; Molek<br />
budi bahasanya.</p>
<p>Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya<br />
menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan<br />
kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak<br />
nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya,<br />
sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.</p>
<p>Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke<br />
mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang<br />
sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum<br />
sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia<br />
menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas<br />
senyumannya.</p>
<p>&#8220;Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-<br />
adik, Ibu atau Ayah abang,&#8221; katanya sopan sekali sambil tersenyum.<br />
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun<br />
pisang penutupnya.</p>
<p>Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan<br />
di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp<br />
20.000,- padanya. &#8220;Ambil ini Dik! Abang sedekah&#8230; Tak usah Abang<br />
beli kue itu.&#8221; Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat<br />
mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima<br />
kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira<br />
dapat membantunya.</p>
<p>Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah<br />
terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,-<br />
pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua<br />
matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak<br />
itu. &#8220;Kenapa Bang, mau beli kue kah?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu<br />
Abang berikan ke Adik!&#8221; kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.</p>
<p>&#8220;Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya<br />
mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.<br />
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan<br />
masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak<br />
berupaya, saya masih kuat Bang!&#8221; katanya begitu lancar. Saya heran<br />
sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal<br />
saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.</p>
<p>&#8220;Abang mau beli semua kah?&#8221; dia bertanya dan saya cuma mengangguk.<br />
Lidah saya kelu mau berkata. &#8220;Rp 25.000,- saja Bang&#8230;.&#8221; Selepas dia<br />
memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp<br />
25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya<br />
perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.</p>
<p>Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak<br />
yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan<br />
mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi<br />
atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat<br />
menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum<br />
dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
