tulisan

Sedikit kisah tentang awal berdirinya Facebook (att to my sis “r1cc4″)

Dear teman2 sebangsa & setanah air,

Ramai ramai demam fesbuk ??? atau face book ?????

aku ada sedikit cerita tentang hal tsb karena kita lebih sering OL di fesbuk ketimbang di web kita sendiri, kenapa  ya kita nggak bisa meramaikan web kita dengan tulisan apapun yang penting bisa untuk menjadikan kita lebih berwawasan atau minimal kita jadi hoby menulis entah apapun tulisan dan arti tentang tulisan kita.

ini cuma sekedar saduran dari teman ku yaitu sis “r1cc4″

Seorang pemuda sebut saja Budi (bukan nama sebenarnya) ditemukan tergantung kaku di kamar tidurnya. Sang Ibulah yang pertama sekali menemukannya karena curiga sepanjang hari Budi tidak keluar dari kamarnya. Tidak ada tanda-tanda keanehan dalam diri anaknya menurut Sang Ibu. Hanya memang sudah sejak sebulan terakhir Budi sering kepergok lagi murung dan kadang menangis. Sang Ibu tidak menyangka Budi sampai senekat itu mengakhiri hidupnya hanya karena diputus oleh sang kekasih yang akan segera menikah dengan calon pilihan orangtuanya.

Sementara, di tempat lain ada seorang pemuda lagi yang mengalami penolakan dari gadis idamannya. Daripada membiarkan dirinya dicabik-cabik oleh perasaannya, maka ia kemudian melakukan aksi sakit hatinya dengan membuat sebuah situs dengan nama facemash.com alias si wajah perkedel.

Demi mendapatkan foto teman-temannya, khususnya yang cewek. Ia nekat menerobos sistem komputer kampusnya. Lalu hasil perburuannya tersebut diunggah ke dalam situs barunya. Kemudian ia memasang sistem yang membuat setiap pengunjung facemash.com agar dapat memberi peringkat pada setiap cewek.

Akibat perbuatannya, pemuda ini dihukum oleh pihak kampus. Tapi usahanya tidak sia-sia. Popularitas facemash.com langsung melonjak, hanya dalam waktu tiga minggu pertama jumlah mahasiswa yang mendaftar sudah mencapai 4.000 orang. Anda tentu sudah dapat menduga, inilah cikal bakal dari Facebook.com yang kini anggotanya sudah mencapai 116,4 juta orang.

Siapakah pemuda itu? Dialah Zuckerberg yang waktu itu ada di semester II di Harvard. Aksi membalas sakit hati pada gadis yang menolaknya malah memjadikannya seorang triliuner termuda di dunia dengan kekayaan US$1,5 miliar di usianya kini 24 tahun.

Dua kisah di atas memiliki persamaan yaitu pemuda yang sakit hati karena cintanya ditolak. Perbedaan dari kedua kisah di atas adalah yang satu membiarkan pikirannya dikuasai perasaan, sedangkan satunya lagi segera melepaskan belenggu perasaan pada pikirannya.Seringkali seseorang menjadi sakit dan menderita karena membiarkan perasaannya menguasai pikirannya. Tidaklah mengherankan karena pada dasarnya manusia adalah mahluk kinestetik. Salah satu cara agar sembuh dari permasalahan adalah dengan membebaskan pikiran dari perasaan yang membelenggunya kadang dengan cara menumpahkan segala unek unek dalam bentuk tulisan.

salam

aIs

Facebook dan YouTube Pada Jam Kerja Menjadikan Anda Karyawan yang Lebih Baik

Apakah Anda pernah tertangkap sedang menggunakan situs jejaring sosial semacam Facebook atau Twitter? Jangan khawatir, karena menurut sebuah studi dari Australia, mereka yang berselancar internet untuk hiburan pada jam kantor memiliki peningkatan produktivitas dibandingkan mereka yang tidak. leisure time

University of Melbourne melakukan studi dan menemukan bahwa orang-orang yang menggunakan Internet untuk keperluan pribadi rata-rata memiliki produktivitas 9% lebih tinggi daripada mereka yang tidak menggunakannya.

Penulis studi, Bren Coker, dari departemen management and marketing, mengatakan “workplace Internet leisure browsing,” atau WILB membantu mempertajam konsentrasi pekerja.

“Orang-orang perlu keluar sebentar untuk mendapatkan kembali konsentrasi mereka,” kata Coker pada situs universitas ( www.unimelb.edu.au/)

“Istirahat yang singkat dan ringan ,seperti berselancar di Internet memungkinkan pikiran untuk mengistirahatkan dirinya, yang menciptakan konsentrasi bersih yang lebih tinggi dalam sehari kerja, dan sebagai hasilnya, peningkatan produktivitas,” katanya.

Menurut studi yang dilakukan pada 300 pekerja, 70% pekerja yang menggunakan Internet pada jam kerja melakukan WILB.

Aktivitas WILB yang paling popular diantaranya adalah mencari informasi mengenai sebuah produk, membaca situs berita online, bermain game online dan menonton video di YouTube.

“Perusahaan sudah membuang jutaan dollar untuk software yang dapat memblokir akses karyawan untuk menonton video, menggunakan situs jejaring sosial atau berbelanja online dengan anggapan bahwa hal tersebut akan membebani biaya produktivitas bernilai jutaan dollar,” kata Coker. “Namun keadaan tidak selalu seperti itu.”

Namun, kata Coker studi ini dilakukan hanya kepada orang-orang yang menggunakan waktu berselancar kurang dari 20% dari total waktu kerja mereka di kantor.

“Mereka yang memiliki tingkah laku seolah kecanduan internet akan memiliki tingkat produktivitas yang lebih rendah daripada mereka yang tidak,” katanya.

Klik di sini untuk sumber artikel.

Siapakah Emaknya ??

Selesai mengurus keperluan di Medan, saya harus kembali ke camp. Mengingat
jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa
mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan
makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di
depan.

“Abang mau beli kue?” Katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera
menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue
jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab saya
ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20
menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain,
sepasang suami istrisepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu
begitu saja.

“Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika
menghampiri meja saya.

“Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih,” kata saya sambil
menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai
di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu
dia tanya, “Tak mau beli kue saya Bang, Pak… Kakak atau Ibu.” Molek
budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya
menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan
kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak
nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya,
sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke
mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang
sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum
sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia
menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas
senyumannya.

“Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik-
adik, Ibu atau Ayah abang,” katanya sopan sekali sambil tersenyum.
Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun
pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan
di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp
20.000,- padanya. “Ambil ini Dik! Abang sedekah… Tak usah Abang
beli kue itu.” Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat
mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima
kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira
dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah
terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,-
pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua
matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak
itu. “Kenapa Bang, mau beli kue kah?” tanyanya.

“Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu
Abang berikan ke Adik!” kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya
mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan
masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak
berupaya, saya masih kuat Bang!” katanya begitu lancar. Saya heran
sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal
saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

“Abang mau beli semua kah?” dia bertanya dan saya cuma mengangguk.
Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja Bang….” Selepas dia
memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp
25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya
perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak
yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan
mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi
atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat
menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum
dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.